Minggu, 18 Maret 2012

Negaraku Dan Pemimpinku

Negara yang berjulukkan Negara maritime, Negara multi cultural, Negara yang batangan kayu ditanam saja akan tumbuh, seyogyanya sangat mumpuni dalam mensejahterakan rakyat mlarat dan merealisasikan tujuan Negara yang salah satunya adalah memajukan pendidikan dengan mencerdaskan anak bangsa, mengayomi dan melindungi seluruh warganya dari ketidak adilan dan juga mensejahterahkan kehidupan rakyat, karena Negara ini katanya bersistemkan “DEMOKRASI”, tapi apakah benar semua itu telah berjalan sesuai system?

Terus terang, saya sendiri juga merupakan warga Indonesia yang merasakan kebijakan-kebijakan fatamorgana dimusim paceklik, bukan kebijakan yang terasa akan tetapi jeratan rantai berduri yang mala semakin mencekik leher para rakyatnya.

Kepercayaan yang diamanahkan oleh rakyat yang seharusnya menjadi pemenuh kebutuhan hidup mereka sehingga tidak ada kesusahan dalam ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan lainnya, namun  sekarang fakta yang berbicara, para ulil amri datang tidak lain hanya ingin menari-nari di atas kesengsaraan rakyat, kenapa seperti itu? Coba berapa banyak kasus yang terjadi saat ini. Untuk menjadi seorang wakil apapun cara dilakukan agar tujuannya tercapai, yang ujungnya menuntut usaha-usahanya diukur dengan nominal, ironisnya setelah duduk di atas dengan jabatan  wewenang yang diamanahkan oleh rakyat, beliau-beliau menginjak-injak rakyat bak layaknya keset lantai.

Pendidikan yang dijanji-janjikan sampai saat ini belum bisa dirasakan oleh seluruh anak bangsa, berapa juta anak yang mengisi jalanan  setiap harinya untuk bertahan hidup bagi dirinya sendiri dan bahkan bagi adik-adiknya?? Apalagi untuk sekolah ? nonsen. Dimana kau pemimpinku ? apakah kau tidak melihat mereka ?

Keadilan seperti apa yang diberikan oleh hukum di Negara ini? Yang mlarat semakin sekarat, yang konglomerat semakin keparat. Hukum saat ini layaknya jual-beli, banyak tawar menawar yang kaum borjuis akan mendapatkan hukuman yang minimalis, sedangkan kaum proletar hanya bisa menerima ketok palu hakim dengan hati yang miris. Apa itu yang kau inginkan dari kami wahai pemimpinku ?

“Rakyat hidup sejahtera” hanya sebagai wacana belaka tanpa wujud aplikasi sama sekali sampai saat ini, yang sejahtera tambah sejahtera… yang tidak ya tidak (menurut kaca mata hari-hari ini). Kebijakan yang saat ini berlaku hanya sepoian angin berlalu, bersifat sementara dapat dirasakan oleh rakyat. Sampai kapan rakyat akan hidup mlarat seperti ini pemimpinku ?

Wahai pemimpin rakyat yang sekarang, ingatlah ! kami memilihmu bukan untuk berleha-leha dan foya-foya, tapi untuk memperjuangkan hidup kami yang penuh dengan kepedihan ini, mempertaruhkan martabat dan harga diri menjadikanmu seorang pemimpin yang senantiasa mengayomi rakyat namun kau berhianat. Alam kau budi dayakan bukan untuk mensejahterahkan kami tapi justru menuruti nafsu bejatmu sendiri, dasar kau wakil rakyat juga linta darat.

Uangmu banyak, berlibur keliling dunia tidak jarang, tapi jangan menggunakan dalih urusan Negara ? uang siap yang kau pakai ? padahal di samping itu, banyak jalan berlubang, rakyat kelaparan, anak-anak tidak mendapat jatah disekolahkan. Dimana ? Dimana ? Dimana… kebijakanmu wahai kau pemimpinku ?

Kami tidak berharap banyak hanya membutuhkan ulul amri yang jujur dan bertanggung jawab, itu saja yang kami inginkan dari pemimpin kita yang baru.

Maju terus Indonesiaku   

Rabu, 14 Maret 2012

Generasi selanjutnya

Sebutir bibit yang ditanam dalam sebuah wadah yang mungkin ukuran cetakannya kurang sesuai, tapi kita tidak tau bagaimana perkembangannya setelah dewasa kelak akan seperti apa ?
Lingkungan adalah salah satu factor yang mempengaruhi perkembangan bibit menjadi sebuah keutuhan yang ekstaordinari yang diinginkan, namun tidak semudah mengedipkan kelopak mata. Keluarga yang menjadi pagar keseharian jika tidak maksimal dalam supervisi, proteksi  dan kurang mendukung peran seorang pendidik (guru) dalam pembentukan karakter dan paradigma seorang bibit unggul, maka sebaliknya peran orang tua mendekonstruksi usaha-usaha yang diupayakan seorang pendidik.
Result yang akan kita temui adalah bibit unggul yang secara esensi, akan berubah menjadi generasi bobrok yang mala menjadi sampah masyarakat untuk selanjutnya.
Jadi tidak hanya bibit dan wadah yang menjadi komponen sebuah generasi penerus yang militan dan smart.